Mengenal Sejarah dan Kebudayaan Pulau Seribu, Pulau Penuh Pesona

Aktivitas Seru di Wisata Pulau Sepa Jakarta
June 25, 2019
Tak Hanya Indah, Mitos Pulau Seribu Ini Membuat Merinding
June 28, 2019

Bermacam-macam pulau di Indonesia terdiri dari berbagai macam kebudayaan, salah satunya kebudayaan Pulau Seribu. Pulau Seribu terletak di selat jawa yaitu selat yang menghubungkan pulau Sumatera dan pulau jawa. Lokasi lebih tepatnya dekat dengan Jakarta dan Banten. Pulau seribu dinamakan demikian karena terdiri dari beberapa pulau-pulau kecil yang tersebar. Pulau seribu juga terdiri dari gugusan pulau yang tergabung dibawah naungan DKI Jakarta.

Pulau seribu terkenal akan keindahan pulau dan lautnya. Banyak wisatawan yang menghabiskan liburan di pulau seribu untuk menikmati keindahan bawah laut yang memiliki terumbu karang dan ikan-ikan yang menarik. Tak jarang wisatawan mancanagera juga turut tertarik mengunjungi pulau seribu untuk menyaksikan keindahan alamnya. Selain itu akses menuju pulau seribu tidak sulit sehingga wisata di pulau seribu tetap ramai diminati,

Bukan hanya wisatanya, kebudayaan Pulau Seribu juga menarik. Meskipun berdekatan dengan Jakarta dan beberapa daerah lainnya, kebudayaan di pulau ini khas dan berbeda jauh terutama dari segi logat bicara. Logat bicara dan kosakatanya jauh berbeda dengan daerah di Jakarta. Hal ini disebabkan oleh campuran etnis dari berbagai suku di Indonesia yang bermukim di pulau seribu. Kebudayaan di pulau Seribu memang patut untuk dipelajari lebih jauh mulai dari asal usulnya hingga karakteristiknya. Ada banyak sekali hal lain yang berkaitan dengan kebudayaan Pulau Seribu yang akan dijelaskan dibawah ini.

Sejarah Tentang Pulau Seribu

Kebudayaan Pulau Seribu tidak lepas dari sejarah yang melatarbelakanginya. Dahulu, kepulauan seribu terbentuk diatas koloni binatang yang sudah mati yang tersebar di sekitar teluk Jakarta. Daratan ini kemudian ditumbuhi oleh berbagai macam tumbuhan dan pohon dan disinggahi fauna. Catatan tertua mengenai pulau seribu tertulis di prasasti yang ditinggalkan oleh Belanda di pulau Onrust pada abad 16.

Dahulu sebenarnya bangsa Portugis yang terlebih dulu singgah di pulau seribu jauh sebelum VOC menjajah di Indonesia tepatnya pada tahun 1513 saat Sunda Pajajaran masih berkuasa di Jakarta dan daerah sekitarnya. Selain itu ada banyak sekali peninggalan Belanda di pulau seribu meskipun Portugis tidak meninggalkan peninggalan apapun. Ada berbagai peninggalan dari Belanda mulai dari prasasti, benteng yang didirikan di beberapa pulau seribu seperti pulau bidadari, pulau onrust, dan pulau kelor.

Selain itu Belanda juga merancang peta beberapa daerah di Indonesia salah satunya adalah peta Jakarta dan sekitarnya. Dalam peta buatan belanda sudah menandai adanya beberapa pulau di kepulauan seribu. Bukan hanya peta, ada beberapa makam-makam dari orang terkenal mulai dari makam raja pandita dari kerajaan di Kalimantan, sultan Mahmud zakaria yang merupakan salah satu bangsawan dari kesultanan banten.

Masih ada banyak sekali peninggalan yang ada di pulau seribu baik dari jaman Belanda dan kerajaan di Nusantara. Peninggalan tersebut menandai masyarakat dan peradaban di pulau seribu yang terkumpul dari beberapa etnis dan suku di Indonesia.

Budaya Masyarakat Pulau Seribu

Meskipun sangat dekat dengan Jakarta, pulau seribu memiliki budaya yang berbeda dengan masyarakat betawi. Masyarakat pulau Seribu atau disebut ‘orang pulo’ memiliki karakter yang unik yang bukan hanya berbeda dengan masyarakat betawi, namun juga berbeda dengan masyarakat banten. Orang Pulo memiliki kebudayaan yang dihasilkan dari perpaduan beberapa etnis yang saling mempengaruhi sehingga muncullah kebudayaan pulo yang merupakan kebudayaan baru.

Kebudayaan ini menjadi kebudayaan bagi orang di pulau seribu. Kebudayaan Pulau Seribu tersebut tercermin dari berbagai hal mulai dari cara bicara, karakteristik dan logat, kebiasaan, serta kuliner. Dalam hal gaya bahasa, cara bicara orang pulo memiliki karakteristik yang bervolume lebih keras. Gaya bicara mereka mirip dengan gaya bicara dari etnis Sulawesi yaitu lincah.

Orang pulo juga menamakan atau menyebut makanan dengan cara yang berbeda. Orang pulo menyebut makanan sejenis lontong isi atau nasi yang biasanya disantap sebagai sarapan sebagai ‘selingkuh’. Selain itu sambal untuk pelengkap ikan bakar dinamakan sambal beranyut. Makanan sejenis empek-empek asal Palembang juga dinamakan dengan nama yang cukup unik seperti ‘puk cue’. Cukup unik bukan?

Kebudayaan tersebut menjadi ciri khas dari orang Pulo yang tinggal di kepulauan Seribu. Kebudayaan itu menyebar di berbagai pulau dengan mudah dan menjadi ciri khas orang Pulo. Awalnya kebudayaan itu hanya menyebar di pulau Panggang saja, namun kelamaan membentuk dan menjadi kebudayaan Pulau Seribu.

Logat Unik Masyarakat di Pulau Seribu

Salah satu hal yang unik dengan kebudayaan orang pulo adalah logat bicaranya. Ada logat khusus yang berbeda dengan suku lain pada orang Pulo. Di pulau pramuka misalnya, salah satu pulau di kepulauan seribu. Gaya tutur warga disana memiliki logat unik yang khas dan berbeda. Meski banyak kemiripan, logat seperti ini sangat berbeda dengan logat betawi. Meskipun dekat dengan Jakarta, kebudayaan Pulau Seribu ini cukup berbeda.

Perbedaan itu terlihat jelas pada logat dan kosakata yang digunakan oleh masyarakat yang tinggal di pulau seribu. Orang setempat menamakan logat tersebut dengan logat pulo. Logat tersebut cukup berbeda dengan logat Jakarta meskipun masih satu provinsi dengan DKI Jakarta. Hal ini karena asal-usul masyarakat kepulauan seribu. Dahulu, pulau seribu merupakan tempat transit kaum nelayan, pedagang, pelaut dari berbagai lokasi di Indonesia.

Orang yang singgah di pulau seribu bervariasi mulai dari banyak suku dari nusantara seperti, Bugis, Dayak, Sunda, Jawa dan lainnya. Sehingga banyak sekali suku dan etnis di pulau seribu dan tidak ada orang asli kepulauan seribu. Orang Pulo biasa dikenakan pada orang kepulauan seribu secara umum seperti orang dari pulau Panggang, pulau Karya dan Pulau Pramuka.

Logat yang unik merupakan salah satu kebudayaan Pulau Seribu. Beberapa kosakata berbeda ada dalam bahasa Pulo. Selain itu ada ciri khas glottal stop dalam logat Pulo. Glottal stop adalah pelafalan huruf ‘t’ dan ‘k’ mati. Seperti misalnya membaca ‘laut’ menjadi lau’.

Tradisi di Kepulauan Seribu yang Jarang Diketahui

Salah satu tradisi masyarakat pulau seribu yang cukup populer adalah tradisi sedekah laut. Karena sebagian besar kehidupan masyarakat kepulauan seribu berada di kepulauan dan laut, tradisi mereka tidak jauh-jauh dari lingkungan tersebut. Laut juga merupakan sumber daya yang yang menjadi mata pencaharian utama dari masyarakat pulau seribu mulai dari menangkap ikan hingga wisata air.

Ritual sedekah laut adalah tradisi yang tak lain adalah syukuran dengan tujuan sebagai ucapan syukur atas hasil laut dan berharap tidak ada bencana dan kesejahteraan. Tradisi ini dilakukan dengan berlayar ke tengah laut dan melarungkan beberapa jenis makanan yang disiapkan. Tradisi ini masih dilakukan hingga kini oleh masyarakat sekitar meskipun tidak rutin.

Tradisi lainnya yang juga terkenal adalah tradisi selam mutiara. Tadisi selam mutiara adalah sejenis perlombaan untuk menyelam ke dasar laut untuk menemukan barang yang telah disembunyikan oleh panitia perlombaan.

Itulah hal-hal yang berkaitan dengan budaya yang ada di pulau seribu atau budaya Pulo. Banyak hal unik yang dapat anda temukan mulai dari segi bahasa, asal-usul dan lain-lainnya yang unik. Kebudayaan dari pulau seribu berasal dari perpaduan berbagai budaya yang singgah di pulau tersebut sehingga menghasilkan kebudayaan yang kaya. Semoga artikel mengenai kebudayaan Pulau Seribu ini menambah wawasan anda.

Comments are closed.